Program Studi Magister Ilmu Biomedik
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Kamis, 12 Maret 2020 - 13:33:58 WIB

Praktikum Teknik Dasar Riset Biomedik

Dikirim oleh Suhandoko Ariwibowo Dibaca 2478 kali
Riset biomedik berperan penting dalam identifikasi penyebab suatu penyakit untuk kemudian dianalisis dan ditangani secara tepat. Selain itu riset ini juga berperan untuk menemukan dan mengembangkan bahan yang tepat untuk mecegah atau mengobati kerusakan akibat suatu penyakit. Oleh karena itu Program Studi Magister Ilmu Biomedik FK-KMK UGM melaksanakan praktikum Teknik Dasar Riset Biomedik dalam upaya memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar baik berupa penggunaan alat dan bahan maupun melakukan prosedur kerja dalam riset biomedik secara mandiri. Ini sejalan dengan misi Program Studi Magister Ilmu Biomedik, yakni menyelenggarakan pendidikan pascasarjana untuk menghasilkan lulusan yang mampu melakukan penelitian di bidang ilmu biomedis. Peserta kegiatan yang dilaksanakan pada hari Senin sampai Kamis, 27-30 Januari 2020 ini adalah mahasiswa Magister Ilmu Biomedik Angkatan 2019.
Pada hari pertama dilaksanakan praktikum isolasi dan purifikasi DNA di Laboratorium Biokimia didampingi oleh Dr. Pramudji Hastuti, Apt, MS dan Dr. Dra. Prasetyastuti, M.Kes. Isolasi DNA bertujuan untuk memisahkan DNA dari bahan lain seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Sampel yang digunakan adalah darah manusia (Whole Blood) dengan menggunakan protokol Kit Promega. Prinsip utamanya adalah melisiskan sel, mengekstraksi DNA dari senyawa lain, dan memurnikan DNA.
Selanjutnya peserta diarahkan menuju ke Laboratorium Anatomi untuk melaksanakan praktikum sacrifice dan preservasi jaringan. Sebelumnya peserta diberikan teori tentang berbagai macam metode sacrifice dan alat dan bahan yang digunakan untuk preservasi
jaringan oleh dr. Junaedi Yunus, Ph.D.
"Pastikan Anda percaya diri ketika melakukan dislokasi servikal agar prosesnya tidak dilakukan
berulang-ulang sehingga menyakiti hewan coba," pesan beliau.
Pertama-tama peserta diajarkan cara pengambilan darah melalui sinus orbitalis mencit (Mus
musculus), kemudian teknik fiksasi dan perfusi jaringan/organ. Fiksasi bertujuan agar kondisi
jaringan/organ yang diambil sedekat mungkin dengan kondisi saat hidup, sedangkan perfusi
adalah metode fiksasi jaringan/organ melalui aliran darah. Organ yang diambil kemudian
disimpan untuk digunakan pada praktikum ekstraksi RNA di hari berikutnya.
Hari kedua dilaksanakan praktikum kultur sel di Laboratorium Fisiologi didampingi oleh dr.
Ratna Dewi Puspita, M.Sc. Kultur sel merupakan proses membiakkan sel hidup secara in vitro
di dalam suatu media. Kultur sel dapat berupa kultur sel primer maupun cell line. Kultur sel
primer merupakan kultur yang berasal dari sel, jaringan, atau organ yang diperoleh langsung
dari organisme asalnya, sedangkan cell line adalah kultur yang diperoleh dari subkultur
pertama dari kultur primer. Praktikum ini menggunakan jaringan kulit tikus untuk
mendapatkan kultur fibroblas. Selain itu peserta juga melakukan panen dan subkultur dari cell
line.
"RNA itu unstable, fragile, mudah terdegradasi oleh RNAse sehingga jangan lupa
menggunakan peralatan yang steril," ungkap dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc, Ph.D
ketika memulai praktikum ekstraksi RNA di Laboratorium Farmakologi.
Tujuan isolasi RNA adalah untuk mengetahui ekspresi suatu gen akibat suatu exposure. Prinsip
isolasi RNA meliputi tiga hal, yaitu ekstraksi RNA, pemurnian RNA, dan presipitasi RNA. RNA
hasil isolasi kemudian dideterminasi kuantitas dan kemurniannya di Laboratorium Riset
Terpadu menggunakan Nanodrop Spectrofotometer.
Praktikum sintesis cDNA, PCR (polymerase chain reaction), dan elektroforesis di hari ketiga dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi dibimbing oleh dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc, Ph.D.
Beliau mula-mula menjelaskan efek perbedaan penggunaan random dan spesifik primer pada pembuatan cDNA (complementary DNA). cDNA yang telah dihasilkan kemudian direplikasi dengan PCR. PCR adalah metode perbanyakan (replikasi) DNA secara enzimatik sehingga dapat dihasilkan DNA dalam jumlah besar dengan waktu relatif singkat dengan melalui tahapan denaturasi, annealing, dan elongasi. Produk PCR kemudian dielektroforesis untuk dilakukan pemisahan fragmen DNA berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya dalam sebuah medan listrik.
Di hari keempat dilaksanakan praktikum basic staining dan imunohistokimia yang didampingi oleh Dr. Dra. Sri Herwiyanti, M.S., Dra. Dewajani Purnomosari, M.Si, Ph.D., drg. Yustina Andwi Ari Sumiwi, M.Kes., dan Dewi Kartikawati Paramita, S.Si, M.Si, Ph.D di Laboratorium Histologi dan Biologi Sel.
Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas bagian-bagian suatu jaringan/sel sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop. Pewarnaan dasar yang digunakan adalah Hematoxilin-Eosin (HE) yang akan memberi warna biru pada nukleus dan warna merah muda pada sitoplasma. Sedangkan imunohistokimia (IHC) adalah salah satu pemeriksaan spesifik dalam patologi anatomi. Prinsipnya adalah perpaduan reaksi imunologi dan kimiawi. Reaksi imunologi berdasarkan reaksi antigen dengan antibodi, sedangkan reaksi kimiawi berdasarkan enzim dengan substrat. Preparat hasil pewarnaan diamati di bawah mikroskop.
"Kegiatan praktikum menambah ilmu dan keterampilan bekerja di laboratorium, tiap prosedur yang dikerjakan diarahkan dengan baik." ungkap Indah. "Alhamdulillah, praktikum ini meningkatkan pemahaman teori Teknik Dasar Riset Biomedik yang diajarkan di perkuliahan, ternyata meneliti bisa seasyik ini," tutur Nabil. "Keren, semua mahasiswa melakukan sendiri tiap prosedur praktikum," tambah Ummul, mahasiswa MIB 2019. (YD)