Program Studi Magister Ilmu Biomedik
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Kamis, 12 Maret 2020 - 13:46:13 WIB

Workshop Soft Skills: Menjadi Unggul & Kompetitif Menuju Era Society 5.0

Dikirim oleh Suhandoko Ariwibowo Dibaca 2982 kali

Jumat, 7 Februari 2020, Program Studi Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada melaksanakan Workshop Soft Skill yang merupakan acara pembuka dari rangkaian kegiatan Workshop Docendo Discimus di Auditorium Gedung Pascasarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM. Acara yang bertema “Teaching Skill and Soft Skills to Conquer The Society 5.0 Era” ini dibuka oleh Ketua Program Studi MIB FK-KMK UGM dr. Nur Arfian, Ph.D. Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa kebutuhan mengelola kepribadian individu dan kemampuan mendidik yang baik merupakan bagian tidak terpisahkan dari seorang dosen. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk pemenuhan fasilitas program studi yang terakreditasi ASEAN University Network (AUN) karena berdasarkan tracer study sebagian besar alumni berkiprah sebagai akademisi. Selain itu workshop ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada peserta workshop yang tidak hanya berasal dari mahasiswa Magister Ilmu Biomedik tetapi juga mahasiswa Magister Ilmu Kedokteran Tropis dan dosen FK-KMK UGM tentang kiat-kiat menjadi individu yang unggul dan kompetitif menuju era Society 5.0.

Sesi pertama dimulai dengan penyampaian tentang Hilirisasi Produk Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat oleh Ibu Dewi Kartikawati Paramita. S.Si., M.Si., Ph.D. Beliau menyampaikan bahwa teknologi alat kesehatan mengalami perkembangan pesat di era digital dan teknologi informasi. Selain itu pentingnya kemandirian bangsa dalam produksi teknologi kesehatan sebagai bentuk perbaikan kualitas kesehatan nasional. 

“Perlu adanya kolaborasi yang sinergis antara universitas, pemerintah, dan industri sebagai kunci keberhasilan suatu inovasi” ungkap inventor NPC Strip (alat deteksi dini kanker nasofaring) ini.

Salah satu upaya Jepang dalam Society 5.0 adalah standardisasi internasional pada teknologi konstruksi, sistem IoT, analisis data besar, dan teknologi kecerdasan buatan.

“Di bidang kesehatan, Society 5.0 memanfaatkan big data, artificial intelligence, dan IoT (Internet of Things) untuk mengevaluasi sistem pelayanan kesehatan dan menganalisis perilaku orang sakit dengan mempertimbangkan dampak sosialnya” ujar Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc., Ph.D selaku keynote speaker. 

Ketua Komite Nasional Penyusunan Formularium Nasional JKN ini juga menambahkan pemanfaatan biobank di era Society 5.0 akan sangat maksimal.

“Semua data terekam dengan baik sehingga kita dapat memprediksi penyakit apa yang kemungkinan terjadi, obat apa yang diperlukan, bahkan memilih dokter untuk berkonsultasi jauh sebelum penyakit tersebut muncul sehingga dapat dilakukan upaya preventif” ungkapnya.

Di Indonesia masih ada ditemukan pasien yang dioverdiagnosis setelah dilakukan evaluasi sistem pelayanan kesehatan. Temuan ini mengindikasikan masih ada oknum-oknum yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan materi yang lebih besar dengan menghalalkan segala cara. Padahal ini akan berdampak pada buruknya data epidemiologi penyakit di Indonesia.

“Tantangan kita di society 5.0 adalah masalah kejujuran. Kejujuran bukan sesuatu yang harus dipertanyakan. Semua orang harus jujur,“ tegas Ketua Komite Nasional Daftar Obat Esensial Nasional ini.

Sesi kedua dilanjutkan dengan sharing pengalaman pendidikan dan beasiswa oleh Bapak I Made Andi Arsana, Ph.D. Menurut beliau, kita harus menemukan implikasi luas dari ilmu yang kita tekuni sehingga dapat menimbulkan kebanggaan ketika mempelajarinya. Beliau menyampaikan langkah-langkah meraih beasiswa, terutama beasiswa ke luar negeri. Ahli geospasial hukum laut ini juga memaparkan tentang alasan-alasan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

“Ketika kita ingin jadi warga dunia, ini bukan soal hebat tidak hebat, tapi soal bergaul. Ketika kita bisa berkontribusi dan berkolaborasi di kelas internasional, itu akan membangkitkan kebanggaan bahwa kita merupakan bagian penting dari dunia. Mental itulah yang harus dimiliki” kata Perwakilan Indonesia dalam Kompetisi Falling Walls Lab tingkat internasional di Berlin, Jerman tahun 2018 yang lalu ini.

Materi Public Speaking dan Networking disampaikan oleh Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.PH., Ph.D. Beliau menyampaikan pentingnya persiapan dan konsistensi latihan sebelum berbicara di depan publik.

“Saya tidak pernah percaya bahwa tanpa berlatih kita akan bisa, sekalipun kita punya bakat. Hanya dengan berlatih maka kita akan bisa,” ungkap Penerima Habibie Award Bidang Kedokteran dan Bioteknologi tahun 2019 ini.

Akademisi yang hobi bermain musik ini mengutarakan bahwa networking is about giving, supporting, & serving.  Formula networking yang baik adalah melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan.

Workshop soft skills di akhiri dengan penyampaian materi tentang Penatalaksanaan Stress oleh Prof. Dra. Raden Ajeng Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. Beliau menjelaskan berbagai macam sumber dan cara mengurangi stress.

“Salah satu cara mengurangi stress adalah dengan kita bicara. WHO dalam pembahasan tentang mental health mengkampayekan “Let’s Talk”. Jadi kalau Anda punya masalah jangan didiamkan, bicarakan dengan orang yang Anda percaya. Oleh karena itu jika posisi Anda sebagai orang yang dipercaya, jadilah pendengar yang baik karena kadang orang hanya perlu didengarkan dan dipahami” tutur Ketua Jogja Sehat Tanpa Tembakau ini.

Selanjutnya beliau memberikan tutorial cara latihan relaksasi sederhana secara psikologi, mulai dari latihan deep breathing sampai muscle relaxation.

“Acaranya menarik, materi yang diberikan ter-update dan sesuai dengan kebutuhan, pemateri yang dihadirkan juga pakar di bidangnya” ucap Hanifa. “Jadi termotivasi untuk menjadi akademisi yang ber-attitude baik dan skillful” tambah Dimas, peserta workshop Docendo Discimus. (YD)